Pembuatan Tahu

Batu, 18 November 2007
proses-buat-tahu
Semua orang pasti kenal dengan makanan tahu. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa pasti mengenalnya. Sampai-sampai saya bisa menunjukkan di mana penjual tahu petis di Batu. Jangankan di Batu. Di Malang, saya bisa tunjukkan di daerah sepanjang jalan Soekarno Hatta bisa ditemukan penjual tahu petis yang enak. Tapi jika ditanyakan ditanyakan, siapa yang mengetahui proses pembuatan tahu, tentu tidak semua orang yang menjawab tauu.!!!!

Itulah jawaban kompak lima puluh lima anak-anak sekolah minggu dari GKIN Filadelfia dan Persekutuan sahabat – Malang, beserta beberapa guru sekolah Minggu. Kebersamaan anak-anak sekolah Minggu dari dua jemaat GKIN, bersama – sama mengunjungi Pabrik Tahu “Melati”. Lokasi pabrik sangat mudah dijangkau karena terletak di Jalan Melati , sangat dekat dari Hotel Batu Permai.

“Siapa yang pernah makan tahu” tanya Lia, seorang guru sekolah Minggu.

“Saya…” jawab beberapa anak.

“Nah, sekarang kita akan melihat proses pembuatan tahu. Kita biasa makan, tapi juga harus belajar untuk membuatntya” seru Lia kepada anak-anak sekolah Minggu yang telah siap dengan alat tulis untuk mencatat proses pembuatan tahu.

Salah satu penanggung jawab sekolah Minggu GKIN Filadelfia bernama Elil, menjelaskan bahwa selain untuk mengenalkan anak-anak pada salah satu makanan yang bergizi, juga memberikan wawasan tentang pembuatannya. Menurutnya lagi, makanan sebenarnya sangat populer ini sudah ditinggalkan oleh anak-anak jaman sekarang. Anak-anak lebih menyukai makanan yang ke-barat-baratan. Tapi tidak memiliki nilai gizi yang baik. Bahkan ada juga makanan yang membahayakan jika dilihat dari kandungannya.

“Ayo anak-anak kita masuk ke dalam pabrik Tahu, tapi hati-hati karena proses pembuatan tahu sedang berjalan” kata Pak Jefrey, pengelola Pabrik Tahu Melati. Dalam ruangan berukuran empat kali sepuluh meter persegi diisi dengan tiga pasang tungku masak, sebuah penggilingan kedelai, dan tempat pengemasan. Sementara itu di luar ruang itu, yang tidak jauh dari ruang produksi, ada tempat menyimpan kedelai dan kacang tanah sebagai bahan baku. Selain itu ada ruang mesin untuk penghasil panas, sebagai sumber panas untuk memasak tahu, lengkap dengan tandon air.

Acara blusukan pabrik tahu diawali dari melihat bahan baku. Pak Jeffrey menerangkan setiap kali produksi, bahan baku terdiri dari liba belas kilogram kedelai import dicampur dengan satu kilo kacang tanah. Kedelai yang digunakan adalah pilihan dan bentuknya besar-besar. Mernurut pengamatan saya, label yang tertera di karung kemasaannya terdapat tulisan “USA”.

Wah, berarti bahan bakunya ditanam oleh “bule”. Padahal lahan pertanian di Indonesia sangat luas, dan iklim untuk bercocok tanam juga bagus. Tapi kenapa harus import? Ah, pertanyaan itu bukan harus dijawab oleh anak-anak sekolah minggu. Tapi harapannya mereka kelak dapat menghasilkan kedelai jenis unggul. Sekarang tinggal yang sudah tua-tua ini mengarahkan agar mereka lebih baik.

Kedelai import digunakan karena memiliki kualitas yang baik untuk pembuatan tahu. Setelah direndam selama dua jam, proses penggilingan dilakukan. Setiap anak dan para guru sekolah minggu diberikan kesempatan untuk meraba hasil penggilingan bahan yang diharapkan dalam proses pembuatan tahu. Proses penggilingan dicampur dengan air. “Kalau untuk pembuatan tahu sutra, adonannnya harus lebih halus lagi”, jelas Pak Jefry yang kalo sepintas saya lihat seperti salah satu aktor film Mandarin.

Setelah itu, hasil gilingan dimasukkan ke tungku masak sekaligus disaring dengan kain halus sebanyak dua kali. Proses masak tidak membutuhkan api dan waktu yang lama. Sumber panas dialirkan melalui sebuah pipa yang terhubung dengan kamar pemanas.

Setelah itu ditambahkan larutan cuka, dan dibiarkan sampai bahan baku tahu mengendap dan airnya dipisahkan.

Bahan baku yang sudah terpisah dengan air, dituangkan dalam cetakan yang terbuat dari kayu. Mencetak tahu ada caranya sendiri. Adonan tidak bisa asal dituang dalam cetakan. Harus ada keahlian khusus. Menurut keterangan Pak Jefry, ada salah satu karyawannnya yang sangat ahli dalam mencetak tahu. Dan itu tidak dimuliki oleh semua orang. Karena keahliannya, karyawan itu diganjar dengan gaji tidak kurang dari dua juta setiap bulannya.

Cetakan yang dilapisi dengan kain tipis agar air dapat keluar dan tahu berbentuk kotak. Agar ukuran dan kepadatan tahu mencapai yang diinginkan, tahu dalam cetakan harus dibalik sekali saja. Tahu siap untuk diangkat dari cetakan dan siap dipotong kotak-kotak seperti yang ada di pasar. Prosesnya sangat mudah, tapi butuh waktu.

Tahu merupakan pangan yang populer di masyarakat Indonesia walaupun asalnya dari China, seperti halnay kecap, tauco, bakpau, dan bakso. Tahu adalah kata serapan dari bahasa Hokkian, yakni tauhu. Arti harafiahnya “kedelai yang difermentasi”. Tahu pertama kali muncul di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han, atau sekita dua ribu dua ratus tahun yang lalu. Penemunya adalah Liu An yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu.

Di Jepang, Tahu dikenal dengan nama tofu. Oleh perantau China, tahu menyebar ke Asia Timur dan Asia Tenggara, lalu akhirnya ke seluruh dunia. Kemudian sampai di Indonesia dikenal berdasarkan tempat pembuatannya, misalnya Tahu Kediri, Tahu Sumedang, dan seterusnya.

Kepopuleran tahu tidak hanya terbatas karena rasanya enak, tetapi juga mudah untuk membuatnya dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk masakan serta harganya murah.

Selain itu, tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan karena kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein hewani. Hal ini bisa dilihat dari nilai NPU (net protein utility) tahu yang mencerminkan banyaknya protein yang dapat dimanfaatkan tubuh, yaitu sekitar 65 persen, di samping mempunyai daya cerna tinggi sekitar 85-98 persen.

Oleh karena itu, tahu dapat dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat. Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain memiliki kelebihan, tahu juga mempunyai kelemahan, yaitu kandungan airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena mudah ditumbuhi mikroba. Untuk memperpanjang masa simpan, kebanyakan industri tahu yang ada di Indonesia menambahkan pengawet. Bahan pengawet yang ditambahkan tidak terbatas pada pengawet yang diizinkan, tetapi banyak pengusaha yang nakal dengan menambahkan formalin.

Dari pengamatan saya di pabrik tahu Melati, selama proses pembuatan tidak dicampur dengan formalin dan pemutih. Sehingga Tahu Melati tidak bisa disipampan terlalu lama. Kalau disimpan di lemari es, paling tahan hanya empat hari. Itu pun dibantu perendaman dalam air.

Hari itu peserta blusukan ke pabrik tahu mendapat kesempatan untuk mencicipi tahu goreng buatan Pabrik tahu Melati. Tahu goreng dimakan dengan sambel kecap mengalahkan minat anak-anak dan guru Sekolah Minggu untuk mencicipi cake yang telah disediakan oleh pengelola pabrik.

Menurut keterangan Ibu Ninik dari GKIN Persekutuan Sahabat, ada seorang anak, sebut saja dengan nama Adi. Biasanya di rumah tidak mau makan tahu, tapi dengan mengetahui langsung proses pembuatannya tergolong higienis itu menjadi suka makan tahu.

Penuturan yang sama juga disampaikan oleh Ibu Anik. Ibunda dari Yoyok ini sangat penasaran dengan cerita anaknya, yang katanya Tahu Melati rasanya enak dan lain dari yang lain.

Lain Ibu Anik, lain lagi penuturan Ibu Nancy. Gembala jemaat di di GKIN Filadelfia ini mengaku bahwa dua anaknya kini selalu menagih tahu dalam menu makannya. Wah, makan tahu dengan sambal colo-colo? Kalau kata teman-teman dari Indonesia Timur, “itu paling sedap, seng ada lawang”.

Satu Tanggapan

  1. klo boleh tahu alamat pabrik tahu dimana ya? trimz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: