Seperti Apa Sekolah yang Baik ?

Jumat, 13 Juli, 2007 oleh Rovicky Putrohari

dsc00599Tahun ajaran baru dimulai sudah. Tapi bicara tentang pendidikan memang selalu seru, tanpa peduli tahun ajaran baru atau telah lama dimulai. Sebab pendidikan selalu jadi isu hot sepanjang hayat.

Ada tiga jenis pendidikan, yakni pendidikan formal di sekolah, non formal di tempat kursus dan pendidikan informal oleh lingkungan. Menilai bagus tidaknya pendidikan sering dilakukan untuk pendidikan formal, karena lebih mudah diukur. Banyak sekali ranking-ranking sekolahan, ranking universitas di dalan negeri Indonesia , Asia maupun di dunia. Dan yang paling sering terdengar adalah ternyata pendidikan di Indonesia ini selalu menjadi bulan-bulanan ketika rankingnya dibawah.

Dari bahan dasar dan hasil akhirnya mungkin dapat digambarkan beberapa tipe sekolah:

Sekolah Tipe 1 : Nelangsa

Sekolah ini memang rada nelongso. Bahan dasarnya bukanlah barang bagus yang KW-1. Makanya kondisi awalnya rendah. Tentunya mendidik atau meningkatkan mutu dan harga jualnya juga tidak mudah. Dengan demikian tentunya kemajuannya akan memulai sudut yang landai, selama masa pendidikan hanya meningkatkan sedikit saja prestasi. Jargon paling nyebeli di dunia “garbage in – garbage out” sulit sekali dilawan.

Sekolah tipe-1 ini merupakan sekolah yang patut dibantu, tentu saja meningkatkan mutu individu manusia ini menjadi mahal. Kalau sambil mengusung HAM maka mereka yang bodoh pun memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan.

Sekolahan Tipe 2 : Ideal

Ini sekolah paling enak dan biasanya termasuk sekolah favorit . Sekolah ini mensyaratkan murid pintar untuk masuk. Itulah sebabnya sekolah jenis ini akan menyaring murid-murid yang sudah memiliki NEM tinggi, dan nantinya akan memperoleh murid-murid yang “mudah” dididik dan ditambah kemampuan. Sekolah ini juga memerlukan guru yang juga pintar. Sehingga murid dapat dibuat maju disesuaikan dengan kemampuannya.Di sekolah ini tingkat kemahiran guru juga menentukan nilai tambah dari bahan dasar serta lingkungan. Juga fasilitas sekolah tentu saja. Namun yang perlu diperhatikan antara pentingnya guru dan proses belajar bahwa proses belajar mengajar itu sebuah siklus, maka peran guru menjadi penting. Siapa yang menjadi guru, apakah yang juga harus murid yang terbaik sebelumnya ?

Sekolahan Tipe 3: Hebat

Ini merupakan sekolah yang mampu mengubah murid dengan “bahan dasar” jelek menjadi bagus. Jika di Indonesia maka ini adalah sekolah plus. Biaya masuknya di atas rata-rata sekolah biasa. Tidak harus pintar untuk masuk, namun setelah digembleng di sekolah ini, maka siswa bisa berubah jadi unggul. Kurikulum dan metodenya meniru negara maju.

Tentunya negara yang memiliki sekolah tipe ini akan sangat cepat maju. Malaysia yang dulu justru dibelakang Indonesia, sekarang sudah mendahului Indonesia dari sisi ekonominya. Apakah pendidikannya juga lebih maju ? Tentunya tidak mudah menjawabnya. Kalau dari sisi pemerataan pendidikan memang barangkali memang benar. Negara berpenduduk hanya sepersepuluh Indonesia ini lebih merata pendidikannya.Pengambil kebijakan serta pejabat yang top-top saat ini adalah mereka-mereka yang dahulu kuliahnya di negara-negara lain, bukan universitas lulusan lokal. Bahkan hingga saat inipun sejak SMU banyak orang lokal Malaysia ini belajar ke London, Australia dan sebagainya. Bahkan Petronas mengakui para lulusan Indonesia cukup bagus.

Sekolah tipe 4 : Favorit

Sekolah tipe ini memberikan hasil yang merata untuk semua muridnya. Peranan guru akan sangat menentukan seperti yang ditulis Pak Satria Dharma. Bisa jadi sekolah tipe ini sangat ditentukan oleh guru yang pandai mengajar satu kelas dengan 50 murid. Sehingga ke 50 murid yang beragam akan memiliki kemajuan yang seragam.

Sekolah tipe ini seperti sekolah favorit juga di Indonesia yang memberikan bahan ajar yang sama untuk masing-masing anak.

Perbedaan sekolahan tipe 4 dan tipe 2 diatas adalah keberagaman hasil. Sekolahan tipe 2 yang dapat memberikan kemajuan optimal masing-masing anak ini tentunya akan sangat bagus apabila ada anak yang ekstra ordinary. Masing-masing anak akan diberi pelajaran sesuai kemampuan daya serapnya dan hasilnya akan optimum untuk masing2 anak didik.

Sekolah Tipe 5

Ini mungkin tipe sekolah yang secara umum dijumpai. Kemajuan masing-masing anak didik sangat tergantung dari awalnya. Barangkali gurunya tidak repot kalau targetnya seperti ini. Si murid pintar yang biasanya rajin akan juga mendapatkan hasil lebih ketimbang murid kurang pandai dan mungkin juga malas. Tetapi memiliki sekolah yang bisa menerima berbagai ragam murid bukanlah pekerjaan ringan. Keberagaman kadang lebih banyak memerlukan tenaga, waktu, biaya serta pikiran. Lalu, bagaimana pendidikan atau sekolahan yang bagus itu? Kedudukan dan tingkat prestasi seseorang tentu saja merupakan hasil gabungan dua hal, memang pintar dari awal atau dari proses belajarnya. Sekolah tipe 2 dan 4 tentunya hanya bagus untuk anak pintar.Jika benar bahwa anak yang pintar dari sononya lebih mudah dididik, maka menunjukkan bahwa menjadi guru di negara-negara berkembang itu tidak semudah yang di negara maju. Karena jumlah anak pintar di negara berkembang itu relatif sedikit. Kalau dengan melihat tingkat kesulitannya maka guru-guru serta dosen kita di Indonesia ini memang benar-benar pahlawan yang tidak kalah dengan guru-guru di negara-negara maju sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: